Coba Sharing Sebisanya ^_^

Karena ingatan mempunyai batasan, sedangkan tulisan lebih mengenang..

Senin, 24 Juli 2017

Sembuh Tanpa Disentuh : Pengobatan Alternatif Bapak Samidi Karanganyar

Selamat pagi sodara pembaca, saya mau membagi sedikit pengalaman saya waktu mengantar ibu saya ke salah satu tempat pengobatan alternatif.
Tepatnya pada Sabtu, 22 Juli 2017 yang lalu saya mendapat informasi tentang pengobatan yang ampuh mengatasi berbagai penyakit. Kemudian langsung saja saya dan ibu saya bersiap dan pergi ke alamat yang diberikan menggunakan si Isamu Akai -motor matic kesayangan saya.
Pengobatan alternatif tersebut adalah milik Bapak Samidi yang beralamatkan di Tugu, Genengsari, Jumantono, Karanganyar. Berjarak sekitar satu setengah jam dari Klaten.
Berikut adalah peta menuju Pengobatan Alternatif Bapak Samidi. Untuk lebih detailnya sodara bisa masukkan keyword Terapi Alternatif Lurah Samidi di Google Maps. Atau jika sodara berasal dari Jogja Klaten dan sekitarnya, saat sodara sudah sampai di daerah Polokarto Karanganyar, sodara bisa bertanya ke warga setempat. InsyaAllah akan diarahkan menuju tujuan seperti pengalaman saya kemarin.
Kurang lebih satu setengah jam melakukan perjalanan yang cukup panjang, saya dan ibu sampai di tempat Bapak Samidi pukul 10.00 WIB. Banyak pedagang makanan menjajakan dagangannya di area ini. Banyak juga orang yang sudah mengantri untuk diobati, duduk penuh sesak di dalam ruangan pengobatan, sebagian yang lain duduk menunggu di tikar di bawah tenda yang telah disediakan. Pikir saya, pasti lama jika harus menunggu giliran untuk ibu diobati. Bagaimana tidak, saya taksir ada lebih dari 70 orang yang mengantri.
Saat menjejakkan kaki di tempat pengobatan itu, ada petugas pendaftaran yang menanyai identitas pasien dan menuliskannya di daftar tamu. Kemudian petugas meminta syarat rokok yang harus diberikan. Ohya, sebagai informasi, Bapak Samidi tidak mengenakan biaya dalam bentuk uang untuk pengobatannya. Melainkan, rokok dengan merk yang telah ditentukan, yaitu 2 bungkus per pasien. jadi Jika Sodara mengantarkan 3 orang untuk berobat maka sodara harus memberi 6 bungkus rokok. Sangat unik betul ?
Setelah selesai mendaftar, saya dan ibu saya duduk menunggu untuk dipanggil. Ternyata dugaan saya di awal salah. Pasien tidak diobati secara perorangan, melainkan secara kelompok dengan kategori penyakit yang sama. Sebagai contoh, saat itu pasien dengan penyakit kencing batu dan prostat diminta masuk ke ruangan. Para pasien tersebut diminta berdiri berbaris rapi kemudian tenang mendengarkan. Bapak Samidi hanya berkata SEMBUH! Kemudian pasien diminta untuk merasakan tubuhnya sendiri, apakah sudah enakan. Jika sudah pasien dipersilahkan keluar dari ruang pengobatan dan pulang. Tidak jelas bagi saya apa yang dilakukan selama pengobatan, karena pada saat itu saya menunggu di luar ruangan, dan hanya melihat sekilas dari balik kaca jendela.

Akhirnya tiba giliran ibu saya. Pasien yang mempunyai penyakit sejenis diminta masuk ke dalam ruangan. Pasien diminta diam, tenang, sesaat kemudian diminta untuk merasakan tubuhnya sendiri. Setelah itu pasien bersalaman kemudian keluar dari ruangan. Kurang lebih seperti itulah yang saya lihat dari metode pengobatan yang dilakukan Bapak Samidi. Menurut pengakuan ibu saya, tidak ada kalimat apapun yang diucapkan selain penyakit bla bla bla SEMBUH! saat pengobatan berlangsung.
Saya tidak ingin berpendapat lebih lanjut mengenai metode pengobatan yang dilakukan Bapak Samidi. Namun semoga tulisan ini dapat menjadi informasi bagi sodara maupun sanak dari sodara yang mungkin sedang membutuhkan pengobatan.

Bonus: beberapa foto dari tempat pengobatan Bapak Samidi

pasien mengantri

Pasien & pengantar mengantri di bawah tenda

antrian di depan rumah/ruangan pengobatan

another antrian

masjid di depan rumah Bapak Samidi. Tetap bisa menjalankan ibadah dan jika ingin ke toilet :)


Akhiru Kalam :
Apa yang tidak bisa diterima logika, akan dipercaya saat bukti di depan mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar